Lanjutkan Pembangunan untuk Pembangunan Berkelanjutan



"Kendari Pos, 6 Februari 2018 (diterbitkan)

Suasana meriahnya Pilkada serentak di Indonesia juga dirasakan masyarakat di Sulawesi Tenggara (Sultra). Bakal pasangan calon gubernur Sultra sudah menyerahkan berkas pencalonan mereka ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hal ini menjadi sinyal bahwa kampanye pun siap digencarkan. Sebagaimana kampanye politik biasanya, berbagai rancangan program kerja yang menjanjikan akan disuguhkan kepada para calon pemilih. Apakah tahun politik kali ini akan menjadi Pemberi Harapan Pasti (PHP) kepada masyarakat Sultra?

Evaluasi terhadap kemajuan pembangunan daerah seringkali menjadi topik pembicaraan yang hangat terutama dalam suasana tahun politik seperti saat ini. Tak jarang yang mengkritisi, ada juga yang mengapresiasi. Berbagai opini masyarakat bermunculan membahas capaian kinerja maupun rancangan program kerja dari pasangan calon pemimpin yang diusungnya.

Sebagian yang lainnya bersuara memberikan masukan-masukan yang membangun untuk kemajuan Sultra kedepannya. Apapun latar belakang dan tujuannya, seluruh masyarakat tentu menaruh harapan kemajuan Sultra kepada para calon pemimpin mereka yang akan menakhodai Sultra kedepannya.

Sekedar berbagi, dalam Laporan Brundtland PBB, pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai proses pembangunan yang mengedepankan prinsip ‘memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan’. Pembangunan sultra yang berkelanjutan merupakan harapan semua masyarakatnya. Dengan demikian, hasil pembangunan akan terus menunjukkan nilai positif dari waktu ke waktu. Namun, prosesnya tentu tak semudah yang dibayangkan. Ini akan menjadi topik pembicaraan yang membuat para pemangku kebijakan dalam hal ini di wilayah Sultra berfikir keras. Terutama soal bagaimana agar harapan-harapan rakyatnya dapat dihadirkan selama periode jabatan mereka berlangsung.

Potret pendidikan dan kesehatan

Masih banyak pekerjaan rumah bidang pendidikan dan kesehatan yang perlu diselesaikan. Salah satunya adalah rata-rata lama sekolah. Indikator ini mengukur akses pendidikan yang merupakan efek dari kebijakan beberapa tahun silam. Selama tiga tahun terakhir, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka rata-rata lama sekolah di Sultra gerakannya merangkak naik pada angka 8 tahun. Artinya rata-rata penduduk sultra yang saat ini usia 25 tahun keatas putus sekolah di kelas 3 SMP.  Angka ini masih relatif rendah dibandingkan target ideal yang diharapkan.

Data BPS juga mencatat Angka Partisipasi Sekolah pada usia 13-15 tahun mencapai 95 persen per Maret 2017.  Hal ini berarti 5 dari setiap 100 Anak usia 13-15 tahun (Usia SMP) tidak bersekolah. Untuk usia 16-18 tahun angkanya jauh lebih rendah lagi. Sekitar 27  dari setiap 100 Anak usia 16-18 tahun (Usia SMP) tidak bersekolah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulawesi Tenggara 2013-2018 sudah menaruh perhatian khusus pada dunia pendidikan terutama dalam upaya meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan kepada masyarakat. Menjadi harapan besar bagi masyarakat untuk terwujudnya cita-cita RPJMD ini sehingga tak ada lagi kekecewaan akibat putus sekolah bersebab sulitnya menjangkau dunia pendidikan bagi anak usia sekolah di Sulawesi Tenggara.

Dimensi Kesehatan juga tidak kalah penting bagi masyarakat. Menikmati umur panjang dan hidup sehat, semua masyarakat menginginkannya. Penyakit yang belakangan mewabah, seperti difteri yang tahun 2017 lalu menjangkit hingga di 20 provinsi di Indonesia atau fenomena yang masih menjadi perhatian khusus pemerintah saat ini, yaitu Campak serta Gizi Buruk di Kabupaten Asmat, Papua. Kedua kasus ini digolongkan pada Kejadian Luar Biasa (KLB) yang merambah di masayarakat. Bagaimana tidak, Difteri, campak, dan gizi buruk sampai menelan korban jiwa yang jumlahnya tidak sedikit. Menjadi pelajaran bagi kita dari jumlah korban yang meninggal akibat penyakit yang mewabah ini.

Walaupun kedua KLB ini tidak menjangkit masyarakat di Sultra, namun seyogyanya fenomena ini harus menjadi warning dan menghadirkan tindak antisipasi dan pencegahan dari pemerintah setempat.  Perhatian pemerintah terhadap kesehatan rakyatnya menjadi sangat penting karena hal ini tidak hanya menyangkut kesejahteraan saja tapi sampai kepada keselamatan jiwa.

Dimulai dari tindakan pencegahan berupa perhatian pada kelengkapan vaksin untuk balita sebagai amunisi awal penangkal berbagai penyakit, sampai dengan tindakan penanggulangan penyakit melalui ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan untuk masyarakat. kedua hal tersebut tidak bisa dikesampingkan. Menurut data BPS Tahun 2017, balita di Sultra yang memperoleh imunisasi BCG, DPT, Polio, dan Hepatitis B berkisar pada 84-87 persen, sedangkan balita yang pernah mendapat imunisasi Campak hanya 56 persen saja.

 

Investasi menjadi prioritas

Bagaimana dengan Ekonomi? Tentu ini menjadi hal yang sangat penting. Percepatan pembangunan yang bergerak positif dan merata diharapkan oleh seluruh lapisan masyarakat.  Terpenuhinya standar hidup layak, kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang memadai menjadi harapan kita semua. Selain itu, infrastruktur juga menjadi sarana penunjang ekonomi yang sangat berperan dalam peningkatan pendapatan domestik (PDRB) di Sulawesi Tenggara.

Investasi di Sultra ditarget untuk 2018 ini mencapai 27 triliun, meningkat 170 persen dari target tahun lalu yaitu 10 triliun. Angka ini cukup fantastis sekaligus menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah tahun ini.

Tentunya kita menginginkan investasi ini mengalir ke sektor yang potensial di Sultra sehingga feedback yang diperoleh dari investasi yang cukup besar ini dapat menunjang dan meningkatkan pendapatan ekonomi daerah (PDRB) Sultra.

Data hasil Sensus ekonomi mengkonfirmasi bahwa sektor konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta energi yang mencakup kelistrikan dan gas merupakan tiga sektor unggulan dan potensial untuk terus dikembangkan.

Selalu menjadi harapan bagi seluruh lapisan masyarakat, agar Pembangunan Daerah ini tidak hanya pencapaian peningkatan dalam kuantitas yang diutamakan, namun juga pemerataan pembangunan itu sendiri.

Dengan demikian, efek dari pembangunan daerah yang diupayakan pemerintahan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat Sultra dari kota hingga ke pelosok desa. Akselerasi dalam pembangunan bisa saja dilakukan, namun tetap saja membutuhkan jeda waktu antara pengambilan kebijakan dengan manfaat merata yang dirasakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, program kerja terkait Perencanaan Pembangunan Sultra dari para pasangan calon yang akan memimpin nantinya sangat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat beberapa tahun yang akan datang. 

Siapapun tentu tidak berharap tahun politik kali ini menjadi masa-masa makmurnya rakyat sesaat saja. Keberlanjutan pembangunan dan pembangunan yang berkelanjutan senantiasa di idam-idamkan oleh seluruh lapisan masyarakat demi kesejahteraan masyarakat Sultra yang lebih baik.

 

Komentar