
Menjadi
berkembang hingga mengarah pada kemajuan, bisa dipastikan bahwa itu semua
membutuhkan aksi nyata. Membangun ekonomi yang kokoh? Membangun pendidikan yang
berkualitas? Membangun dunia kesehatan yang terstandardisasi? Membangun manusia
yang kreatif inovatif dan kompetitif? Demikian juga dalam membangun hal-hal
positif lainnya, membutuhkan aksi nyata.
Aksi
nyata membutuhkan pembelajaran sebelumnya, hingga target yang menjadi sasaran
tepat kena dan tepat guna. Statistik
memunculkan perannya. Statistik sebagai alat untuk potret fenomena yang terjadi di sekitar. Manfatnya
dalam menyusun pola perencanaan dan sistem pengawasan menjadi efektif selama
pemnyusunan dan pemanfaatannya berada dalam koridor yang tepat. Bagaimana
penyusunan dan pemanfaatan statistik saat ini? Apakah tujuan penyusunan
statistik? Bagaimana dengan pemanfaatannya?
Statistik, kenapa
harus ada?
Ibarat
padi yang ditanam bisa saja hasilnya tak sesuai harapan. Tapi rumput yang
tumbuh disekitarnya meskipun sudah diracun tetap saja menemukan cela hingga
terselip diantara pepadian. Namun demikian, rumput tak menghalangi petani untuk
terus bertanam dan meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil tanamnya.
Sebelum
padi tumbuh, mulai dari lahan tempat tumbuh, jenis bibit yang akan disebar,
jenis pupuk yang sesuai dengan usia tanam, jenis hama yang menyerang, semuanya
dipelajari terlebih dahulu oleh para petani, agar padi yang ditanam dapat
tumbuh sesuai harapan.
Tak
jauh berbeda dari padi, menumbuhkan ekonomi yang kokoh misalnya; atau
pendidikan yang berkualitas; atau Sumber Daya Manusia (SDM) yang kreatif,
inovatif, dan kompetitif; semuanya akan dimulai dari mengenali karakteristik
‘target’ dan lingkungan sekitarnya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa disini peran
data sangat dibutuhkan.
Tak
hanya sampai disitu, sebagai tahapan akhir, petani padi tak pernah lupa
menghitung hasil panennya, menemukan keuntungan atau kerugian berikut dengan
fenomena yang dialaminya semasa tanam hingga panen. Dengan demikian, jika hasil
panennya bagus, variabel kontrol yang dapat dijangkau akan terus ditingkatkan
kualitasnya oleh petani. Dan jika mengalami kerugian, fenomena itu akan menjadi
modal dasar dalam melakukan tindakan preventif agar hal yang sama tidak
terulang lagi pada masa tanam periode berikutnya.
Demikian
juga dalam pembangunan wilayah, kebutuhan data sebagai bahan evaluasi kinerja
mutlak sangat dibutuhkan. Evaluasi kinerja tidak melulu harus membaik,
terkadang kita perlu legowo terhadap data yang merupakan cerminan fakta
yang memperlihatkan adanya celah belum optimalnya sebuah program. Kehadiran
data perlu dimaknai dengan pikiran terbuka agar fungsinya sebagai landasan
dalam pembangunan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Hendak
membangun ekonomi yang kokoh mustahil bisa dilakukan tanpa mengetahui potensi
apa yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Data hasil Sensus Ekonomi 2016 lalu
misalnya, menkonfirmasi mengenai tiga sektor potensial (non pertanian) yang
dimiliki oleh Sulawesi Tenggara yaitu Konstruksi, Pertambangan dan Penggalian,
serta energi yang mencakup kelistrikan dan gas. Selain itu sektor lain yang
potensial untuk terus dikembangkan adalah Industri Pengolahan, Sektor
Perdagangan sebagai penyedia usaha dan tenaga kerja terbesar di Sultra, serta
Sektor Informasi dan Komunikasi.
Dengan
demikian, pemerintah mendapat gambaran mengenai arah kebijakan ekonomi yang
akan dijalankan kedepannya.
Membangun
dengan pemerataan juga akan sulit tanpa mengetahui sektor dan wilayah mana yang
membutuhkan prioritas. Dalam indikator kesehatan misalnya. Kabupaten Buton,
Buton Tengah, dan Buton Selatan merupakan tiga kabupaten di Sutra yang
menduduki peringkat terbawah dalam salah satu indikator pembangunan di bidang
kesehatan yaitu pada dimensi umur panjang dan hidup sehat.
Dengan
demikian, pemerintah dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi masyarakat
Sultra sehingga menjadi lebih terarah dalam pengambilan kebijakan berkaitan
dengan usaha pemerataan pembangunan di Sulawesi Tenggara.
Bijak Gunakan
Statistik
Statistik
bukan semata-mata hasil garapan dari petugas yang bekerja di dalamnya saja,
yang tidak kalah penting perannya adalah elemen yang terlibat langsung dalam
penyusunan data dan informasi tersebut. Yaitu masyarakat secara umum, responden yang didata dalam sensus/survei secara
khusus.
Jika
dirasa ada yang kurang tepat dengan data yang ada di permukaan, kurang bijak
jika kita terburu-buru menyalahkan kinerja satu dua orang. Mengetahui seluk
beluk terbentuknya data itu lebih baik. menemukan sumber penyusunnya, menelisik
makna dari setiap angka yang ada, membuka ruang diskusi untuk segala yang belum
pas dengan logika. Data yang akurat mestinya dapat terjelaskan, ilmiah,
relevan, dan bisa memahamkan.
Menelaah
data statistik tidak serumit yang dibayangkan. Cukup dengan menemukan bagaimana
statistik itu diperoleh, maka pemahaman akan data lebih mudah kita dapatkan.
Membangun
bangsa tak hanya tugas pelayan negara. Membangun data tak hanya tugas
buruh-buruh data. Membangun desa dalam lingkup terkecil sekalipun menjadi
tanggung jawab kita bersama.
Jika
membangun bangsa membutuhkan data, maka membangun data membutuhkan kerjasama
kita semua. Karena data tak muncul seketika, melainkan setelah melewati proses
yang panjang. Konseptor dengan olah fikirnya, kegiatan lapangan dengan panas
dan hujannya, olah dokumen dengan segala uji validitasnya, hingga analisis dan
deklarasi data dengan segala resiko ucap puji di belakangnya. Dari sekian
banyak mereka yang puas dengan data yang dimunculkan, tidak dipungkiri juga ada
mereka menolak dengan segala bentuk ekspresinya.
Dalam
rangka mendukung salah satu program prioritas nasional yaitu pengembangan dunia
usaha dan pariwisata, program pioritas perbaikan iklim investasi serta
penciptaan lapangan kerja, Badan Pusat Statistik diamanahkan untuk melaksanakan
Survei Penyusunan Disagregasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada rentang
1 April hingga 30 Juni 2018. Dengan sasaran pendataan adalah Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) termasuk kecamatan/desa/dan kelurahan, pelaku usaha
(rumah tangga dan perusahaan), serta lembaga non profit yang melayani
masyarakat (LNPRT). Melalui data yang dihasilkan dari survei ini diharapkan
akan memudahkan pemerintah maupun pelaku usaha dalam melakukan perencanaan
pertumbuhan ekonomi yang lebih detail dan akurat.
Untuk
ketercapaian tujuan nasional yang diharapkan, sangat dibutuhkan kerjasama dan
peran serta semua pihak terutama yang menjadi responden dalam pendataan survei
penyusunan disagregasi PMTB ini. Karena membangun data bukan bertujuan untuk
menyenangkan mereka atau menyengsarakan yang lainnya, melainkan untuk membangun
Indonesia. Melek dengan data, peduli dengan Aksi nyata. Untuk Sultra dan
Indonesia.
Komentar
Posting Komentar