Statistik Untuk Apa?

 



"Kendari Pos, 2 April 2018 (diterbitkan)

Menjadi berkembang hingga mengarah pada kemajuan, bisa dipastikan bahwa itu semua membutuhkan aksi nyata. Membangun ekonomi yang kokoh? Membangun pendidikan yang berkualitas? Membangun dunia kesehatan yang terstandardisasi? Membangun manusia yang kreatif inovatif dan kompetitif? Demikian juga dalam membangun hal-hal positif lainnya, membutuhkan aksi nyata.

Aksi nyata membutuhkan pembelajaran sebelumnya, hingga target yang menjadi sasaran tepat kena dan tepat guna.  Statistik memunculkan perannya. Statistik sebagai alat untuk potret  fenomena yang terjadi di sekitar. Manfatnya dalam menyusun pola perencanaan dan sistem pengawasan menjadi efektif selama pemnyusunan dan pemanfaatannya berada dalam koridor yang tepat. Bagaimana penyusunan dan pemanfaatan statistik saat ini? Apakah tujuan penyusunan statistik? Bagaimana dengan pemanfaatannya?

Statistik, kenapa harus ada?

Ibarat padi yang ditanam bisa saja hasilnya tak sesuai harapan. Tapi rumput yang tumbuh disekitarnya meskipun sudah diracun tetap saja menemukan cela hingga terselip diantara pepadian. Namun demikian, rumput tak menghalangi petani untuk terus bertanam dan meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil tanamnya.

Sebelum padi tumbuh, mulai dari lahan tempat tumbuh, jenis bibit yang akan disebar, jenis pupuk yang sesuai dengan usia tanam, jenis hama yang menyerang, semuanya dipelajari terlebih dahulu oleh para petani, agar padi yang ditanam dapat tumbuh sesuai harapan.

Tak jauh berbeda dari padi, menumbuhkan ekonomi yang kokoh misalnya; atau pendidikan yang berkualitas; atau Sumber Daya Manusia (SDM) yang kreatif, inovatif, dan kompetitif; semuanya akan dimulai dari mengenali karakteristik ‘target’ dan lingkungan sekitarnya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa disini peran data sangat dibutuhkan.

Tak hanya sampai disitu, sebagai tahapan akhir, petani padi tak pernah lupa menghitung hasil panennya, menemukan keuntungan atau kerugian berikut dengan fenomena yang dialaminya semasa tanam hingga panen. Dengan demikian, jika hasil panennya bagus, variabel kontrol yang dapat dijangkau akan terus ditingkatkan kualitasnya oleh petani. Dan jika mengalami kerugian, fenomena itu akan menjadi modal dasar dalam melakukan tindakan preventif agar hal yang sama tidak terulang lagi pada masa tanam periode berikutnya.

Demikian juga dalam pembangunan wilayah, kebutuhan data sebagai bahan evaluasi kinerja mutlak sangat dibutuhkan. Evaluasi kinerja tidak melulu harus membaik, terkadang kita perlu legowo terhadap data yang merupakan cerminan fakta yang memperlihatkan adanya celah belum optimalnya sebuah program. Kehadiran data perlu dimaknai dengan pikiran terbuka agar fungsinya sebagai landasan dalam pembangunan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Hendak membangun ekonomi yang kokoh mustahil bisa dilakukan tanpa mengetahui potensi apa yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Data hasil Sensus Ekonomi 2016 lalu misalnya, menkonfirmasi mengenai tiga sektor potensial (non pertanian) yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara yaitu Konstruksi, Pertambangan dan Penggalian, serta energi yang mencakup kelistrikan dan gas. Selain itu sektor lain yang potensial untuk terus dikembangkan adalah Industri Pengolahan, Sektor Perdagangan sebagai penyedia usaha dan tenaga kerja terbesar di Sultra, serta Sektor  Informasi dan Komunikasi.

Dengan demikian, pemerintah mendapat gambaran mengenai arah kebijakan ekonomi yang akan dijalankan kedepannya.

Membangun dengan pemerataan juga akan sulit tanpa mengetahui sektor dan wilayah mana yang membutuhkan prioritas. Dalam indikator kesehatan misalnya. Kabupaten Buton, Buton Tengah, dan Buton Selatan merupakan tiga kabupaten di Sutra yang menduduki peringkat terbawah dalam salah satu indikator pembangunan di bidang kesehatan yaitu pada dimensi umur panjang dan hidup sehat.

Dengan demikian, pemerintah dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi masyarakat Sultra sehingga menjadi lebih terarah dalam pengambilan kebijakan berkaitan dengan usaha pemerataan pembangunan di Sulawesi Tenggara.

Bijak Gunakan Statistik

Statistik bukan semata-mata hasil garapan dari petugas yang bekerja di dalamnya saja, yang tidak kalah penting perannya adalah elemen yang terlibat langsung dalam penyusunan data dan informasi tersebut. Yaitu masyarakat secara umum, responden  yang didata dalam sensus/survei secara khusus.

Jika dirasa ada yang kurang tepat dengan data yang ada di permukaan, kurang bijak jika kita terburu-buru menyalahkan kinerja satu dua orang. Mengetahui seluk beluk terbentuknya data itu lebih baik. menemukan sumber penyusunnya, menelisik makna dari setiap angka yang ada, membuka ruang diskusi untuk segala yang belum pas dengan logika. Data yang akurat mestinya dapat terjelaskan, ilmiah, relevan, dan bisa memahamkan.

Menelaah data statistik tidak serumit yang dibayangkan. Cukup dengan menemukan bagaimana statistik itu diperoleh, maka pemahaman akan data lebih mudah kita dapatkan.

Membangun bangsa tak hanya tugas pelayan negara. Membangun data tak hanya tugas buruh-buruh data. Membangun desa dalam lingkup terkecil sekalipun menjadi tanggung jawab kita bersama.

Jika membangun bangsa membutuhkan data, maka membangun data membutuhkan kerjasama kita semua. Karena data tak muncul seketika, melainkan setelah melewati proses yang panjang. Konseptor dengan olah fikirnya, kegiatan lapangan dengan panas dan hujannya, olah dokumen dengan segala uji validitasnya, hingga analisis dan deklarasi data dengan segala resiko ucap puji di belakangnya. Dari sekian banyak mereka yang puas dengan data yang dimunculkan, tidak dipungkiri juga ada mereka menolak dengan segala bentuk ekspresinya.

Dalam rangka mendukung salah satu program prioritas nasional yaitu pengembangan dunia usaha dan pariwisata, program pioritas perbaikan iklim investasi serta penciptaan lapangan kerja, Badan Pusat Statistik diamanahkan untuk melaksanakan Survei Penyusunan Disagregasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada rentang 1 April hingga 30 Juni 2018. Dengan sasaran pendataan adalah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) termasuk kecamatan/desa/dan kelurahan, pelaku usaha (rumah tangga dan perusahaan), serta lembaga non profit yang melayani masyarakat (LNPRT). Melalui data yang dihasilkan dari survei ini diharapkan akan memudahkan pemerintah maupun pelaku usaha dalam melakukan perencanaan pertumbuhan ekonomi yang lebih detail dan akurat.

Untuk ketercapaian tujuan nasional yang diharapkan, sangat dibutuhkan kerjasama dan peran serta semua pihak terutama yang menjadi responden dalam pendataan survei penyusunan disagregasi PMTB ini. Karena membangun data bukan bertujuan untuk menyenangkan mereka atau menyengsarakan yang lainnya, melainkan untuk membangun Indonesia. Melek dengan data, peduli dengan Aksi nyata. Untuk Sultra dan Indonesia.


Komentar