
"Kendari Pos, 17 Januari 2019 (diterbitkan)
Perdesaan
sebagai pusat kemiskinan, demikian anekdot yang sering kita dengar. Tak hanya
sekedar ungkapan, data yang menunjukkan fakta juga berbicara hal yang sama.
Dalam kondisi kemiskinan nasional mencapai nilai terendah sepanjang sejarah
sekalipun, yaitu 9,82 persen pada tahun 2018 masih ada kabupaten di papua sana
yang 43,49 persen penduduknya tergolong penduduk miskin. Jika dilihat berdasarkan
kelompoknya, persentase penduduk miskin di perkotaan 7,02 persen, sedangkan
perdesaan mencapai 13,20 persen. Demikian data yang dirilis oleh Badan Pusat
Statistik (BPS) beberapa waktu lalu. Bagaimana dengan provinsi Sulawesi Tenggara?
Lebih spesifik
untuk wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra), tercatat angka kemiskinan 11,63
persen. Dan hanya 2 dari 17 kabupaten/kota yang memiliki angka kemiskinan di
bawah rata-rata nasional, yaitu Kota Kendari dan bau-bau. Bagaimana dengan 15
kabupaten lainnya? Tentu saja hal ini akan menuntut lebih banyak perhatian
dalam pembangunan wilayah maupun sumber daya manusianya.
Dengan
demikian, membangun Indonesia dari pinggiran memang masih perlu diperjuangkan
untuk pemerataan pembangunan hingga ke pelosok pemukiman. Karakteristik
perdesaan sangat lekat dengan wilayah kita, Sulawesi Tenggara. Wilayah
pemukiman penduduk yang masih sangat bergantung pada kondisi tanah, iklim, dan
air sebagai syarat penting bagi terwujudnya pola kehidupan agraris
masyarakatnya.
Demikian
wilayah Sultra yang pergerakan ekonominya didominasi oleh hasil dari sektor
agraris. Data terakhir menunjukkan bahwa, nilai tambah regional Sultra 24,08
persennya berasal dari sektor agraris yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan
(BPS, PDRB Provinsi Sulawesi Tenggara Menurut Lapangan Usaha, 2013-2017).
Kemiskinan
Perdesaan
Diantara 15
kabupaten di Sultra, Konawe Selatan merupakan kabupaten dengan persentase
penduduk miskin terendah yaitu 10,95 persen. Sedangkan yang tertinggi adalah
Kabupaten Konawe Kepulauan yang mana 17,48 persen penduduknya tergolong
kelompok masyarakat yang tidak mampu secara ekonomi memenuhi kebutuhan dasar
makanan dan nonmakanan mereka.
Kemiskinan
begitu melekat dengan kehidupan perdesaan. Meskipun tidak mengabaikan adanya
penduduk miskin di perkotaan, namun perdesaan cenderung memiliki persentase
yang lebih besar. Mengamati keadaan di lapangan, akses informasi dan komunikasi
menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Fasilitas
jalan misalnya, masih terdapat perdesaan dengan jalan tanah/berlumpur yang
hampir tidak dapat dilalui ketika hujan cenderung dihindari oleh masyarakat
kecuali dalam keadaan terpaksa tidak ada alternatif lain. Dengan demikian, bisa
dipastikan wilayah ini bukan tempat yang menjadi pilihan warga untuk membuka lapangan
usaha, warung makan atau sekedar jajanan. Alasannya sederhana, calon pembeli
juga hampir tidak ada.
Alih-alih percepatan
ekonomi, perputaran ekonomi saja dapat dipastikan cenderung lambat. Sangat
tidak sebanding dengan wilayah yang memiliki fasilitas transportasi memadai, disana
peluang membangun lapangan usaha begitu terbuka. Jika hendak menjual hasil
panen ke desa sebelah atau kota sekalipun menjadi lebih mudah dengan biaya
transportasi yang relatif lebih murah.
Berdasarkan
hasil pendataan Potensi Desa oleh BPS pada Mei 2018 lalu, dari 2.354
desa/kelurahan di Sultra, 2.320 memiliki akses jalur darat. Dari jumlah tersebut,
hanya 2.124 desa yang dapat dilalui kendaraan
roda 4 sepanjang tahun. Artinya, terdapat 196 desa yang tidak dapat dilalui
secara lancar pada waktu-waktu tertentu, musim hujan misalnya.
Disamping itu,
jika kita telisik lebih dalam perihal akses informasi dan komunikasi masyarakat
di perdesaan, masih terdapat 888 desa yang sinyal telepon selulernya lemah
bahkan tidak ada sama sekali. Kita bisa bayangkan bagaimana keterbatasan
informasi dan komunikasi disana yang berimbas pada keseharian yang monoton,
tanpa informasi baru. Tak ada telpon, tidak ada pesan singkat (sms) apalagi
telepon seluler dengan kebutuhan sinyal internet (smartphone), hampir
tidak dapat digunakan di wilayah ini. Sangat tidak sebanding dengan wilayah
perkotaan yang didukung dengan sinyal telepon seluler hingga internet yang kuat
layaknya 4G bahkan 5G.
Memasuki era
digital seperti saat ini, berbagai elemen menyuguhkan pelayanan dunia tanpa
batas, serba digital, serba mudah, cepat, dan akurat. Namun perlu kita akui,
masyarakat yang tinggal di perdesaan terasa masih sangat jauh dari segala
bentuk sarana serba canggih ini.
Proyek
Pembangunan Desa
Pembangunan
berbasis perdesaan senantiasa mengedepankan kearifan lokal masyarakat setempat.
Mengikuti karakteristik demografi, soisal budaya, geografis, pola kegiatan
usaha pertanian, pola keterkaitan ekonomi desa-kota, sektor kelembagaan desa,
serta karakteristik kawasan pemukiman.
Pembangunan
infrasturktur memang menjadi penyokong utama pergerakan ekonomi rakyat. Kebutuhan
masyarakat akan sarana transportasi akhirnya perlahan terjawab. Pembangunan
ruas jalan terus dilakukan di tiap kabupaten/kota. Hal ini seiring dengan
kucuran dana desa yang kian meningkat. Dengan berbagai pembangunan
infrastruktur yang tengah dilakukan, pemerintah daerah juga diharapkan semakin
intens dalam mengawal pembangunan infrastruktur desa ini.
Selain
infrastrutur, dalam rangka menyokong pemenuhan kebutuhan masyarakat yang
membutuhkan, bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) terus dijalankan dan
cenderung meningkat bilangannya. Jumlah dana yang disalurkan disesuaikan dengan
indeks kebutuhan keluarga ybs. Termasuk keberadaan ibu hamil, anak usia dini,
dan anak yang sedang bersekolah menjadi pertimbangan (Joko Widodo, dalam KP
11/01/19).
Membangun
Sumber Daya Manusia (SDM) memang merupakan investasi jangka panjang bagi setiap
wilayah. Upaya dan dukungan terhadap dunia pendidikan di Sultra hasilya semakin
terlihat. Angka partisipasi sekolah masyarakat meningkat di setiap jenjang
pendidikan.
Tak
tanggung-tanggung, demi menyokong pembangunan dunia pendidikan ini, dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) Sultra 2019 ditambah menjadi 680 miliar dari tahun
sebelumnya yaitu 600 miliar. Tentu terselip harapan besar dalam pengelolaan
dana yang terbilang tidak sedikit itu, agar tepat guna, tidak terbuang sia-sia,
apalagi nyasar ke kantong ‘rakyat’ yang tidak berhak menerimanya.
Kemajuan
tak menghentikan pembahruan
Secara umum
pembangunan desa di Sulawesi Tenggara menunjukkan kemajuan. Terlihat dari
Indeks Pembangunan Desa (IPD) yang dirilis BPS berdasarkan pendataan Potensi
Desa (Podes) 2018 lalu. pada tahun 2014 IPD Sultra yaitu 52,35 poin, meningkat
menjadi 57,25 pada tahun 2018. IPD ini menunjukan tingkat perkembangan desa
dengan kategori tertinggal, berkembang, dan Mandiri. Semakin tinggi IPD meunjukkan semakin mandiri desa
tersebut.
Meskipun
demikian, fakta tentang kemajuan senantiasa disandingkan dengan data-data yang
memberikan evaluasi terhadap kinerja. Barangkali hal ini bertujuan agar
kepuasan tentang keberhasilan tak
melangit hingga melupakan pekerjaan rumah yang masih menumpuk dan harus
diselesaikan.
Pembangunan
mesti inklusif, demikian juga dengan kemajuan. Harapannya dapat dirasakan tidak
hanya oleh sekelompok orang saja dengan mengesampingkan yang lainnya.
Ketimpangan pembangunan dan kemajuan masih dirasakan oleh masyarakat perdesaan.
Ketergantungan mereka dengan hasil alam, keterbatasan dengan akses informasi
hingga teknologi. Keseriusan pengentasan kemiskinan melalui perdesaan akan
menjadi gerbang harapan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan kita
bersama.
Komentar
Posting Komentar